Rabu, 16 November 2011

Manthous : Apa kabar sang maestro campursari?


Siapa yang tak kenal manthous, bagi pecinta campursari pasti mengenal sosok ini. Dia adalah penyanyi bersuara khas, pencipta lagu sekaligus maestro campursari. Pria yang berasal dari Gunungkidul, Yogyakarta itu memang mempunyai bakat seni musik dari kecil. Manthous lahir pada tanggal 10 April 1950 dengan nama aslinya 'anto sugiartono' merupakan anak ke-dua dari enam bersaudara dari pasangan (Alm) Wiryo Atmodjo dan Sumartinah. Kakak Manthous bernama Anti Sugiartini, sedangkan keempat adiknya bernama Harjono, Yunianto, Sutomo dan Heru. Saat itu ayah Manthous bekerja sebagai PNS
(Pegawai Negeri Sipil) di Kota Wonosari, Yogyakarta, sedangkan ibunya sebagai ibu
rumah tangga.

Tahun 1957, Manthous masuk sekolah pertama kali di SR ( Sekolah Rakyat ) Playen, Gunung Kidul, dan melanjutkan SMP dan SMA juga ditempat yang sama, bakat seninya mulai nampak ketika SMP, manthous sering menjadi perwakilan dalam lomba seni wayang.
Demi mengejar obsesinya dibidang seni, manthous rela tidak menyelesaikan SMA-nya hingga pada tahun 1967 ia merantau ke Jakarta dan tinggal bersama saudaranya di daerah Jatinegara, Jakarta Timur. Di jakarta manthous pernah melakoni berbagai pekerjaan, antara lain sebagai buruh pabrik sendok, kondektur bus, montir sepeda motor dan pengamen.

Bakat seninya mulai tersalurkan saat tahun 1970 ia mulai bergabung dengan group musik bernama Bintang Group Jakarta, pimpinan Budiman B.J. Dengan membawakan tembang-tembang khas Jawa, dan group itu mendapatkan kontrak dari Hotel Wisma Nusantara, Jakarta. Saat itulah Manthous akhirnya menemukan jodohnya yakni Utasih, mereka menikah pada tanggal 29 Oktober 1972 dan dikaruniai empat orang anak.

Perjalanan karier musiknya mulai bersinar saat tahun 1992 ia membuat group Campursari yang terkenal dengan nama CSGK (Campur Sari Gunung Kidul), meski campursari sendiri sebenarnya sudah ada jauh sebelum itu, namun ditangan manthous, yang menggabungkan antara alat musik tradisional dan modern (pentatonik dan diatonik), campursari menjadi sangat tersohor dan mewabah khususnya di pulau jawa, hingga melahirkan banyak penyanyi terkenal, bahkan group2 campursari sejenispun mulai bermunculan hampir disetiap daerah.

Selain sebagai maestro campursari, manthous dikenal sebagai pencipta lagu yang handal, bukan saja untuk lagu campursari tetapi juga yang dinyanyikan penyanyi papan atas indonesia, antara lain lagu yang berjudul : jamilah (jamal mirdad), surga dan neraka (hetty koes endang), gethuk (nurafni octavia) dan kangen (evie tamala). Konon untuk 1 lagu, manthous dibayar 1 juta, dan jika masuk dapur rekaman ia mendapatkan royalti sebesar 200juta.

Pada masa jayanya, manthous boleh dibilang sangat cukup dalam hal materi, bahkan sempat ia mendirikan studio musik di Gunungkidul, hingga akhirnya pada tahun 2002 manthous terkena stroke, dan memaksanya untuk beristirahat, meskipun keluarga sudah mengusahakan pengobatan baik secara medis maupun alternatif, namun sang maestro belum kunjung sembuh. Yang agak memprihatinkan saat ini ia tidak mempunyai asuransi kesehatan maupun asuransi jiwa, hingga untuk pengobatan selama ini, manthous mengandalkan tabungannya. Menurut keluarga, manthous memang pernah ikut asuransi namun karena ditipu akhirnya ia memutuskan untuk tidak ikut asuransi lagi.

Kini manthous sementara hanya bisa berbaring di rumahnya, di bukit pamulang, Ciputat Tangerang, ditemani Utasih sang istri dan anak-anaknya yang senantiasa merawat dengan penuh kasih sayang.

Semoga Bapak Manthous sang maestro campursari segera diberi kesembuhan oleh Allah SWT, dan kembali berkarya seperti sedia kala, Amin.

Sumber :
www.jamsosindonesia.com/cetak/ printout/73 ; dengan beberapa tambahan dari admin.

Tidak ada komentar: