Jumat, 16 September 2011

Enthung jati khas Gunungkidul


Gunungkidul merupakan suatu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, yang sebagian besar struktur tanahnya mengandung kapur.
Mungkin karena itulah didaerah tersebut pohon jati sangat banyak ditemukan, karena ternyata pohon jati cocok tumbuh di daerah yang berkapur.

Seperti tanaman lainnya, daun jati juga mempunyai konsumen tersendiri yakni ulat pemakan daun jati, berwarna hitam tidak berbulu dan tidak membikin gatal apabila disentuh. Uniknya ulat (jawa : uler) ini memakan daun jati pada musim tertentu. Saat musim ulat jati datang maka seluruh pohon jati akan diserbu daunnya. Bagi yang bukan warga gunungkidul mungkin akan merasa geli atau takut saat musim ulat itu tiba, karena begitu banyak ulat yang menempel / memakan di daun jati, bahkan turun ke tanah (dengan menggunakan semacam air liurnya). Tapi bagi warga setempat hal itu sudah biasa, saya teringat pada waktu dulu ketika masih anak-anak, justru musim itu adalah saat yang menyenangkan, karena hampir semua orang terutama anak-anak akan beramai-ramai berburu ulat jati.
Apalagi setelah beberapa hari, biasanya ulat tersebut akan menjadi kempompong (jawa: enthung), yang bentuknya seperti kerucut dan berwarna merah tua.
Inilah saat yang ditunggu-tunggu,
karena kami semua akan 'memanen' kempompong / enthung jati tersebut. Biasanya enthung jati
akan bersembunyi dibalik daun atau di tanah / dibalik gundukan batu dengan melindungi dirinya menggunakan semacam selaput putih. Setelah mendapatkan enthung tersebut dalam jumlah yang lumayan, tibalah waktu untuk menikmatinya, cukup digoreng begitu saja hingga matang lalu dibumbui dengan sedikit garam. Dan rasanya tentu saja gurih dan lezat. Namun bagi yang tidak biasa makan kadang akan timbul alergi gatal-gatal, seperti orang yang alergi terhadap udang / seafood.

Tidak ada komentar: