Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Oktober 2011

Candi Risan - Desa candirejo, semin, gunungkidul


Ada sebuah desa di kecamatan semin, gunungkidul, yogyakarta yang bernama 'candirejo'. Sesuai namanya ternyata di desa tersebut terdapat peninggalan sejarah berupa candi yang bernama candi risan.


Candi risan merupakan satu-satunya candi terbesar dan paling lengkap artefak batu-batunya yang ditemukan di Gunung Kidul. Konon nama Risan diambil dari singkatan irisan atau perbatasan wilayah dua kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Candi ini juga dipercaya sebagai saksi sejarah pelarian Majapahit ke Gunung Kidul dari tanah Yogyakarta.
Hingga kini sejarah tentang candi ini belum diketahui secara pasti. Diperkirakan candi tersebut merupakan candi Budha karena ditemukannya stupa. Usia candi ini diperkirakan lebih tua dibandingkan dengan Candi Prambanan, yaitu telah ada sejak abad ke-3. Beberapa komponen yang ada di candi ini adalah : ratna, makara, artefak, dan beberapa batu berukir. Sayangnya hampir semua batu tersebut aus sehingga sulit dikenali untuk mengidentifikasi bentuknya.

Lokasi

Lokasi Candi Risan adalah di atas bukit karst dengan batu penyusun candi yang terkubur di dalam tanah. Di sejumlah relief candi tersebut, terdapat gambar sulur tanaman dan aneka burung. Candi Risan hanya memiliki satu arca bernama Awalukitiswara yang sempat dicuri pada Juli 1984 dan ditemukan di Singapura, sembilan bulan berikutnya.
Arca tersebut kini disimpan di kantor Badan Pelestari Peninggalan Purbakala, DIY.
Candi ini berukuran 13 x 13 meter, tetapi bentuk aslinya saat ini sudah tidak terlihat lagi. Saat ini candi ini hanya berupa tumpukan batu yang tidak tertata lagi. Candi ini semula berada di pekarangan milik warga. Tetapi saat ini pengelolaannya diambil alih oleh pemerintah. Sayangnya perawatan candi ini terbengkalai.

Mitos

Ada mitos tentang candi Risan. Konon apabila ada burung yang sedang terbang di atas reruntuhan candi, burung tersebut pasti jatuh. Ada juga cerita yang mengatakan bahwa ada keluarga yang sedang memiliki hajatan dan menggunakan batu candi tersebut sebagai tungku untuk merebus air, dan ternyata air tersebut tidak bisa mendidih.


Sumber : gudeg.net

Senin, 10 Oktober 2011

Kemarau di semin gunungkidul, masih ada air




Musim kemarau tahun ini memang terasa panjang, hampir diseluruh wilayah indonesia terkena dampaknya, terutama bagi para petani di pedesaan.

Tak terkecuali tempat kelahiran penulis di kecamatan Semin, Gunungkidul, Yogyakarta, kemarau telah membuat daerah tersebut terlihat tandus dan gersang. Memang untuk kebutuhan air bersih / rumah tangga, secara umum bisa dibilang tidak terlalu sulit karena masih ada sumur yang mengeluarkan sumber air. Walaupun ada juga yang kering hingga akhirnya terpaksa membeli air bersih per tangki (± 6.000ltr) dengan harga ±Rp.150.000,- lalu dituangkan / ditampung dalam sumur tsb. Sebenarnya juga sudah ada jaringan pipa air bersih (PAM) namun entah kenapa akhir2 ini sering terjadi gangguan.

Yang sangat terasa memang untuk pertanian, dengan tidak turunnya hujan maka lahan tersebut menjadi kering, untunglah bagi lahan / tanah pertanian yang berdekatan dengan sungai, masih bisa mengambil air dari sungai tsb, karena upaya dari warga disana, sungai yang masih mengalirkan air dibuat bendungan sebagai tampungan, kemudian dengan tenaga diesel air tersebut dialirkan ke lahan / sawah, sehingga dapat ditanami.

Mudah-mudahan kemarau panjang segera berakhir, dan hujan kembali membasahi bumi semin sehingga para petani kembali bisa bercocok tanam.