Tampilkan postingan dengan label Makanan Tradisional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makanan Tradisional. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 November 2011

Tempe alakathak, enak dan ngangeni


Setiap daerah memang punya makanan khas tersendiri, seperti di daerah saya Gunungkidul Yogyakarta, ada salah satu makanan tradisional yang bernama tempe alakathak. Namanya memang unik sesuai dengan penampilan dan juga rasanya.

Tempe alakathak berbahan dasar 'benguk' (semacam koro / jenis kacang-kacangan), yang direbus dan digiling serta diberi campuran kunyit/kunir, sehingga jika sudah jadi, tempe ini akan berwarna kuning, di daerah lain ada yang menyebutnya tempe kuning. Dalam penyajiannya tempe alakathak ini dibungkus dengan daun jati sehingga menambah cita rasa yang khas, dan biasanya disajikan dengan mie khusus yang terbuat dari tepung singkong.

Selain di Gunungkidul, tempe alakathak / tempe kuning ini juga banyak terdapat di daerah klaten dan sukoharjo. Rasanya yang gurih dan khas itu memang selalu membuat kangen bagi orang yang sudah pernah mencicipinya.





Foto by: google

Kamis, 20 Oktober 2011

Grontol jagung, gurih dan nikmat


Pernahkan ada mendengar 'grontol'? Yach.. Saya jadi teringat nama itu ketika suatu hari saya bertemu dengan pedagang makanan keliling dan dengan gerobak dorongnya ia menjual grontol. Grontol adalah salah satu makanan tradisional di pulau jawa umumnya, yang berbahan dasar jagung dengan ditaburi parutan kelapa.

Dulu waktu sebelum merantau dan saya masih tinggal ditempat kelahiran tercinta di gunungkidul sana, setiap musim jagung, ibu atau simbah putri saya sering membuat grontol tersebut. Rasanya gurih, asin dan manis, pokoknya nikmat banget.

Cara membuatnya memang saya sudah agak lupa, tapi kayaknya cukup sederhana kok, proses singkatnya begini : jagung dipipil kemudian direbus hingga kulit arinya pecah, angkat tiriskan dan taburi dengan parutan kelapa, gula dan garam.

Supaya gak keliru, sayapun googling dan menemukan sebuah resep dari salah satu blog teman http://endhoot.blogspot.com, inilah resep membuat grontol :

Bahan :
- 300 gr jagung pipil
- 1 sendok teh air kapur sirih
- 2000 ml air untuk merebus
- 2 sendok teh garam
- 2 lembar daun pandan
Pelengkap :
- 25 gr gula pasir
- 150 gr kelapa parut panjang, kukus
- 1 lembar daun pandan
- ½ sendok teh garam
Cara membuat :
- Rendam jagung pipil bersama air kapur sirih selama semalam, cuci, tiriskan.
- Rebus air hingga mendidih, masukkan jagung, garam dan daun pandan, rebus hingga jagung mekar dan matang, angkat, tiriskan.
- Campur kelapa bersama daun pandan dan garam, aduk rata, kukus selama 15 menit,
angkat.
- Sajikan grontol dengan gula pasir dan kelapa muda.

Untuk 6 orang.

Nah, silahkan mencoba yach..!

Sabtu, 01 Oktober 2011

Manggleng / klathak dari gunungkidul


Salah satu makanan atau penganan tradisional yang selalu membikin saya kangen akan kampung halaman saya di gunungkidul adalah manggleng atau ada yang menyebut juga klathak.

Bahan dasar utamanya adalah ketela atau ubi kayu yang memang merupakan tanaman yang banyak tumbuh didaerah saya. Cara membuatnya : ketela yang sudah dikupas dan dicuci lalu dikukus hingga matang, setelah itu diiris tipis-tipis sepanjang ±5cm kemudian dijemur hingga kering.

Jika hendak dikonsumsi manggleng atau klathak yang sudah dijemur kering tadi dicelupkan kedalam air garam atau air gula (sesuai selera, ingin rasa asin atau manis), kemudian barulah digoreng hingga matang.

Makanan ini sangat cocok dihidangkan sebagai nyamikan atau cemilan sambil menonton TV bersama keluarga.

Kamis, 29 September 2011

Gatot khas gunungkidul


Bagi warga Yogyakarta khususnya daerah Gunungkidul, tentunya tak asing dengan gatot.

Gatot adalah makanan yang terbuat dari ketela / singkong. Cara membuatnya terlebih dahulu singkong yang sudah dikupas kulitnya dijemur / dikeringkan dan menjadi gaplek. Lalu gaplek ini dibiarkan lagi di udara terbuka (panas, hujan, siang dan malam) selama beberapa hari hingga berwarna
kecoklatan (atau hitam). Jika hendak dimasak gaplek yang sudah berwarna kehitaman tadi direndam minimal semalam, dicuci, lalu dikukus hingga
empuk. hidangkan bersama parutan kelapa, tambahkan garam atau gula pasir sesuai selera.

Gatot akan terasa kenyal dan gurih dimulut, dan akan lebih nikmat jika ditemani segelas teh atau secangkir kopi.

Jumat, 16 September 2011

Enthung jati khas Gunungkidul


Gunungkidul merupakan suatu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, yang sebagian besar struktur tanahnya mengandung kapur.
Mungkin karena itulah didaerah tersebut pohon jati sangat banyak ditemukan, karena ternyata pohon jati cocok tumbuh di daerah yang berkapur.

Seperti tanaman lainnya, daun jati juga mempunyai konsumen tersendiri yakni ulat pemakan daun jati, berwarna hitam tidak berbulu dan tidak membikin gatal apabila disentuh. Uniknya ulat (jawa : uler) ini memakan daun jati pada musim tertentu. Saat musim ulat jati datang maka seluruh pohon jati akan diserbu daunnya. Bagi yang bukan warga gunungkidul mungkin akan merasa geli atau takut saat musim ulat itu tiba, karena begitu banyak ulat yang menempel / memakan di daun jati, bahkan turun ke tanah (dengan menggunakan semacam air liurnya). Tapi bagi warga setempat hal itu sudah biasa, saya teringat pada waktu dulu ketika masih anak-anak, justru musim itu adalah saat yang menyenangkan, karena hampir semua orang terutama anak-anak akan beramai-ramai berburu ulat jati.
Apalagi setelah beberapa hari, biasanya ulat tersebut akan menjadi kempompong (jawa: enthung), yang bentuknya seperti kerucut dan berwarna merah tua.
Inilah saat yang ditunggu-tunggu,
karena kami semua akan 'memanen' kempompong / enthung jati tersebut. Biasanya enthung jati
akan bersembunyi dibalik daun atau di tanah / dibalik gundukan batu dengan melindungi dirinya menggunakan semacam selaput putih. Setelah mendapatkan enthung tersebut dalam jumlah yang lumayan, tibalah waktu untuk menikmatinya, cukup digoreng begitu saja hingga matang lalu dibumbui dengan sedikit garam. Dan rasanya tentu saja gurih dan lezat. Namun bagi yang tidak biasa makan kadang akan timbul alergi gatal-gatal, seperti orang yang alergi terhadap udang / seafood.