Tampilkan postingan dengan label gunungkidul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gunungkidul. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 November 2011

Tempe alakathak, enak dan ngangeni


Setiap daerah memang punya makanan khas tersendiri, seperti di daerah saya Gunungkidul Yogyakarta, ada salah satu makanan tradisional yang bernama tempe alakathak. Namanya memang unik sesuai dengan penampilan dan juga rasanya.

Tempe alakathak berbahan dasar 'benguk' (semacam koro / jenis kacang-kacangan), yang direbus dan digiling serta diberi campuran kunyit/kunir, sehingga jika sudah jadi, tempe ini akan berwarna kuning, di daerah lain ada yang menyebutnya tempe kuning. Dalam penyajiannya tempe alakathak ini dibungkus dengan daun jati sehingga menambah cita rasa yang khas, dan biasanya disajikan dengan mie khusus yang terbuat dari tepung singkong.

Selain di Gunungkidul, tempe alakathak / tempe kuning ini juga banyak terdapat di daerah klaten dan sukoharjo. Rasanya yang gurih dan khas itu memang selalu membuat kangen bagi orang yang sudah pernah mencicipinya.





Foto by: google

Jumat, 18 November 2011

Antara Lesus dan Cleret taun

Orang jawa pasti tahu istilah 'lesus' dan 'cleret taun', yaitu kejadian / fenomena alam yang disebabkan oleh angin/udara. Meski keduanya berasal dari sumber yang sama tapi ternyata berbeda artinya. Paling tidak hal itu berdasarkan pengalaman saya waktu kecil di kampung halaman saya di Gunungkidul, Yogyakarta.

Cleret taun terjadi biasanya pada saat musim hujan dan umumnya menjelang sore hari, tanda - tandanya sebelumnya udara terasa gerah/pengap, lalu datanglah awan yang bergulung-gulung berwarna hitam pekat dan tak lama kemudian terjadilah angin kencang / angin ribut, yang bisa memporak-porandakan apa saja yang dilewatinya, termasuk pohon besar ataupun rumah.

Sedangkan lesus kebanyakan terjadi pada saat musim kemarau, yakni berupa angin yang berputar cepat ke atas, meskipun skalanya tidak sebesar cleret taun, tapi lesus juga bisa merusak apa saja yang dilewatinya.

Rabu, 16 November 2011

Manthous : Apa kabar sang maestro campursari?


Siapa yang tak kenal manthous, bagi pecinta campursari pasti mengenal sosok ini. Dia adalah penyanyi bersuara khas, pencipta lagu sekaligus maestro campursari. Pria yang berasal dari Gunungkidul, Yogyakarta itu memang mempunyai bakat seni musik dari kecil. Manthous lahir pada tanggal 10 April 1950 dengan nama aslinya 'anto sugiartono' merupakan anak ke-dua dari enam bersaudara dari pasangan (Alm) Wiryo Atmodjo dan Sumartinah. Kakak Manthous bernama Anti Sugiartini, sedangkan keempat adiknya bernama Harjono, Yunianto, Sutomo dan Heru. Saat itu ayah Manthous bekerja sebagai PNS
(Pegawai Negeri Sipil) di Kota Wonosari, Yogyakarta, sedangkan ibunya sebagai ibu
rumah tangga.

Tahun 1957, Manthous masuk sekolah pertama kali di SR ( Sekolah Rakyat ) Playen, Gunung Kidul, dan melanjutkan SMP dan SMA juga ditempat yang sama, bakat seninya mulai nampak ketika SMP, manthous sering menjadi perwakilan dalam lomba seni wayang.
Demi mengejar obsesinya dibidang seni, manthous rela tidak menyelesaikan SMA-nya hingga pada tahun 1967 ia merantau ke Jakarta dan tinggal bersama saudaranya di daerah Jatinegara, Jakarta Timur. Di jakarta manthous pernah melakoni berbagai pekerjaan, antara lain sebagai buruh pabrik sendok, kondektur bus, montir sepeda motor dan pengamen.

Bakat seninya mulai tersalurkan saat tahun 1970 ia mulai bergabung dengan group musik bernama Bintang Group Jakarta, pimpinan Budiman B.J. Dengan membawakan tembang-tembang khas Jawa, dan group itu mendapatkan kontrak dari Hotel Wisma Nusantara, Jakarta. Saat itulah Manthous akhirnya menemukan jodohnya yakni Utasih, mereka menikah pada tanggal 29 Oktober 1972 dan dikaruniai empat orang anak.

Perjalanan karier musiknya mulai bersinar saat tahun 1992 ia membuat group Campursari yang terkenal dengan nama CSGK (Campur Sari Gunung Kidul), meski campursari sendiri sebenarnya sudah ada jauh sebelum itu, namun ditangan manthous, yang menggabungkan antara alat musik tradisional dan modern (pentatonik dan diatonik), campursari menjadi sangat tersohor dan mewabah khususnya di pulau jawa, hingga melahirkan banyak penyanyi terkenal, bahkan group2 campursari sejenispun mulai bermunculan hampir disetiap daerah.

Selain sebagai maestro campursari, manthous dikenal sebagai pencipta lagu yang handal, bukan saja untuk lagu campursari tetapi juga yang dinyanyikan penyanyi papan atas indonesia, antara lain lagu yang berjudul : jamilah (jamal mirdad), surga dan neraka (hetty koes endang), gethuk (nurafni octavia) dan kangen (evie tamala). Konon untuk 1 lagu, manthous dibayar 1 juta, dan jika masuk dapur rekaman ia mendapatkan royalti sebesar 200juta.

Pada masa jayanya, manthous boleh dibilang sangat cukup dalam hal materi, bahkan sempat ia mendirikan studio musik di Gunungkidul, hingga akhirnya pada tahun 2002 manthous terkena stroke, dan memaksanya untuk beristirahat, meskipun keluarga sudah mengusahakan pengobatan baik secara medis maupun alternatif, namun sang maestro belum kunjung sembuh. Yang agak memprihatinkan saat ini ia tidak mempunyai asuransi kesehatan maupun asuransi jiwa, hingga untuk pengobatan selama ini, manthous mengandalkan tabungannya. Menurut keluarga, manthous memang pernah ikut asuransi namun karena ditipu akhirnya ia memutuskan untuk tidak ikut asuransi lagi.

Kini manthous sementara hanya bisa berbaring di rumahnya, di bukit pamulang, Ciputat Tangerang, ditemani Utasih sang istri dan anak-anaknya yang senantiasa merawat dengan penuh kasih sayang.

Semoga Bapak Manthous sang maestro campursari segera diberi kesembuhan oleh Allah SWT, dan kembali berkarya seperti sedia kala, Amin.

Sumber :
www.jamsosindonesia.com/cetak/ printout/73 ; dengan beberapa tambahan dari admin.

Kamis, 27 Oktober 2011

Candi Risan - Desa candirejo, semin, gunungkidul


Ada sebuah desa di kecamatan semin, gunungkidul, yogyakarta yang bernama 'candirejo'. Sesuai namanya ternyata di desa tersebut terdapat peninggalan sejarah berupa candi yang bernama candi risan.


Candi risan merupakan satu-satunya candi terbesar dan paling lengkap artefak batu-batunya yang ditemukan di Gunung Kidul. Konon nama Risan diambil dari singkatan irisan atau perbatasan wilayah dua kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Candi ini juga dipercaya sebagai saksi sejarah pelarian Majapahit ke Gunung Kidul dari tanah Yogyakarta.
Hingga kini sejarah tentang candi ini belum diketahui secara pasti. Diperkirakan candi tersebut merupakan candi Budha karena ditemukannya stupa. Usia candi ini diperkirakan lebih tua dibandingkan dengan Candi Prambanan, yaitu telah ada sejak abad ke-3. Beberapa komponen yang ada di candi ini adalah : ratna, makara, artefak, dan beberapa batu berukir. Sayangnya hampir semua batu tersebut aus sehingga sulit dikenali untuk mengidentifikasi bentuknya.

Lokasi

Lokasi Candi Risan adalah di atas bukit karst dengan batu penyusun candi yang terkubur di dalam tanah. Di sejumlah relief candi tersebut, terdapat gambar sulur tanaman dan aneka burung. Candi Risan hanya memiliki satu arca bernama Awalukitiswara yang sempat dicuri pada Juli 1984 dan ditemukan di Singapura, sembilan bulan berikutnya.
Arca tersebut kini disimpan di kantor Badan Pelestari Peninggalan Purbakala, DIY.
Candi ini berukuran 13 x 13 meter, tetapi bentuk aslinya saat ini sudah tidak terlihat lagi. Saat ini candi ini hanya berupa tumpukan batu yang tidak tertata lagi. Candi ini semula berada di pekarangan milik warga. Tetapi saat ini pengelolaannya diambil alih oleh pemerintah. Sayangnya perawatan candi ini terbengkalai.

Mitos

Ada mitos tentang candi Risan. Konon apabila ada burung yang sedang terbang di atas reruntuhan candi, burung tersebut pasti jatuh. Ada juga cerita yang mengatakan bahwa ada keluarga yang sedang memiliki hajatan dan menggunakan batu candi tersebut sebagai tungku untuk merebus air, dan ternyata air tersebut tidak bisa mendidih.


Sumber : gudeg.net

Rabu, 26 Oktober 2011

Senja di Platar ombo


Hari beranjak sore, matahari menguning lembut menyapa tubuh tak segarang tadi siang. Semilir angin sore nan sejuk, mengurai dedaunan mendendangkan nyanyian alam di bukit platar ombo.

Platar ombo adalah sebuah tempat di desa pundungsari, kecamatan semin, gunungkidul, Yogyakarta, sesuai namanya platar ombo (halaman/tanah lapang yang luas) memang berupa hamparan bebatuan putih (batu kapur) yang cukup luas, meski tak semuanya batu karena dikanan kirinya masih banyak juga tanah sawah / pertanian.

Paling enak jika ingin ke platar ombo adalah pada waktu sore hari sekitar jam 16.00 hingga menjelang maghrib, karena selain tidak lagi terik juga kita bisa merasakan terpaan angin semilir nan sejuk, sembari melihat pegunungan biru yang seakan mengelilingi kawasan platar ombo, dan jika kita melihat ke arah barat laut maka kitapun dapat melihat indahnya gunung merapi - merbabu, dari tempat itu.

Karena angin yang bertiup cukup besar tidak banyak terhalang pepohonan maka platar ombo juga merupakan tempat favorit bagi anak2 maupun orangtua bermain layang-layang besar (koang / bapangan).

Senjapun menjelang, matahari mulai tenggelam dibalik peraduan, meninggalan semburat merah di kaki cakrawala, mengiring sepasang kekasih yang beranjak pulang sembari mengucap salam pada bukit platar ombo.

Kamis, 20 Oktober 2011

Grontol jagung, gurih dan nikmat


Pernahkan ada mendengar 'grontol'? Yach.. Saya jadi teringat nama itu ketika suatu hari saya bertemu dengan pedagang makanan keliling dan dengan gerobak dorongnya ia menjual grontol. Grontol adalah salah satu makanan tradisional di pulau jawa umumnya, yang berbahan dasar jagung dengan ditaburi parutan kelapa.

Dulu waktu sebelum merantau dan saya masih tinggal ditempat kelahiran tercinta di gunungkidul sana, setiap musim jagung, ibu atau simbah putri saya sering membuat grontol tersebut. Rasanya gurih, asin dan manis, pokoknya nikmat banget.

Cara membuatnya memang saya sudah agak lupa, tapi kayaknya cukup sederhana kok, proses singkatnya begini : jagung dipipil kemudian direbus hingga kulit arinya pecah, angkat tiriskan dan taburi dengan parutan kelapa, gula dan garam.

Supaya gak keliru, sayapun googling dan menemukan sebuah resep dari salah satu blog teman http://endhoot.blogspot.com, inilah resep membuat grontol :

Bahan :
- 300 gr jagung pipil
- 1 sendok teh air kapur sirih
- 2000 ml air untuk merebus
- 2 sendok teh garam
- 2 lembar daun pandan
Pelengkap :
- 25 gr gula pasir
- 150 gr kelapa parut panjang, kukus
- 1 lembar daun pandan
- ½ sendok teh garam
Cara membuat :
- Rendam jagung pipil bersama air kapur sirih selama semalam, cuci, tiriskan.
- Rebus air hingga mendidih, masukkan jagung, garam dan daun pandan, rebus hingga jagung mekar dan matang, angkat, tiriskan.
- Campur kelapa bersama daun pandan dan garam, aduk rata, kukus selama 15 menit,
angkat.
- Sajikan grontol dengan gula pasir dan kelapa muda.

Untuk 6 orang.

Nah, silahkan mencoba yach..!

Senin, 10 Oktober 2011

Kemarau di semin gunungkidul, masih ada air




Musim kemarau tahun ini memang terasa panjang, hampir diseluruh wilayah indonesia terkena dampaknya, terutama bagi para petani di pedesaan.

Tak terkecuali tempat kelahiran penulis di kecamatan Semin, Gunungkidul, Yogyakarta, kemarau telah membuat daerah tersebut terlihat tandus dan gersang. Memang untuk kebutuhan air bersih / rumah tangga, secara umum bisa dibilang tidak terlalu sulit karena masih ada sumur yang mengeluarkan sumber air. Walaupun ada juga yang kering hingga akhirnya terpaksa membeli air bersih per tangki (± 6.000ltr) dengan harga ±Rp.150.000,- lalu dituangkan / ditampung dalam sumur tsb. Sebenarnya juga sudah ada jaringan pipa air bersih (PAM) namun entah kenapa akhir2 ini sering terjadi gangguan.

Yang sangat terasa memang untuk pertanian, dengan tidak turunnya hujan maka lahan tersebut menjadi kering, untunglah bagi lahan / tanah pertanian yang berdekatan dengan sungai, masih bisa mengambil air dari sungai tsb, karena upaya dari warga disana, sungai yang masih mengalirkan air dibuat bendungan sebagai tampungan, kemudian dengan tenaga diesel air tersebut dialirkan ke lahan / sawah, sehingga dapat ditanami.

Mudah-mudahan kemarau panjang segera berakhir, dan hujan kembali membasahi bumi semin sehingga para petani kembali bisa bercocok tanam.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Manggleng / klathak dari gunungkidul


Salah satu makanan atau penganan tradisional yang selalu membikin saya kangen akan kampung halaman saya di gunungkidul adalah manggleng atau ada yang menyebut juga klathak.

Bahan dasar utamanya adalah ketela atau ubi kayu yang memang merupakan tanaman yang banyak tumbuh didaerah saya. Cara membuatnya : ketela yang sudah dikupas dan dicuci lalu dikukus hingga matang, setelah itu diiris tipis-tipis sepanjang ±5cm kemudian dijemur hingga kering.

Jika hendak dikonsumsi manggleng atau klathak yang sudah dijemur kering tadi dicelupkan kedalam air garam atau air gula (sesuai selera, ingin rasa asin atau manis), kemudian barulah digoreng hingga matang.

Makanan ini sangat cocok dihidangkan sebagai nyamikan atau cemilan sambil menonton TV bersama keluarga.

Kamis, 29 September 2011

Gatot khas gunungkidul


Bagi warga Yogyakarta khususnya daerah Gunungkidul, tentunya tak asing dengan gatot.

Gatot adalah makanan yang terbuat dari ketela / singkong. Cara membuatnya terlebih dahulu singkong yang sudah dikupas kulitnya dijemur / dikeringkan dan menjadi gaplek. Lalu gaplek ini dibiarkan lagi di udara terbuka (panas, hujan, siang dan malam) selama beberapa hari hingga berwarna
kecoklatan (atau hitam). Jika hendak dimasak gaplek yang sudah berwarna kehitaman tadi direndam minimal semalam, dicuci, lalu dikukus hingga
empuk. hidangkan bersama parutan kelapa, tambahkan garam atau gula pasir sesuai selera.

Gatot akan terasa kenyal dan gurih dimulut, dan akan lebih nikmat jika ditemani segelas teh atau secangkir kopi.

Jumat, 16 September 2011

Enthung jati khas Gunungkidul


Gunungkidul merupakan suatu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, yang sebagian besar struktur tanahnya mengandung kapur.
Mungkin karena itulah didaerah tersebut pohon jati sangat banyak ditemukan, karena ternyata pohon jati cocok tumbuh di daerah yang berkapur.

Seperti tanaman lainnya, daun jati juga mempunyai konsumen tersendiri yakni ulat pemakan daun jati, berwarna hitam tidak berbulu dan tidak membikin gatal apabila disentuh. Uniknya ulat (jawa : uler) ini memakan daun jati pada musim tertentu. Saat musim ulat jati datang maka seluruh pohon jati akan diserbu daunnya. Bagi yang bukan warga gunungkidul mungkin akan merasa geli atau takut saat musim ulat itu tiba, karena begitu banyak ulat yang menempel / memakan di daun jati, bahkan turun ke tanah (dengan menggunakan semacam air liurnya). Tapi bagi warga setempat hal itu sudah biasa, saya teringat pada waktu dulu ketika masih anak-anak, justru musim itu adalah saat yang menyenangkan, karena hampir semua orang terutama anak-anak akan beramai-ramai berburu ulat jati.
Apalagi setelah beberapa hari, biasanya ulat tersebut akan menjadi kempompong (jawa: enthung), yang bentuknya seperti kerucut dan berwarna merah tua.
Inilah saat yang ditunggu-tunggu,
karena kami semua akan 'memanen' kempompong / enthung jati tersebut. Biasanya enthung jati
akan bersembunyi dibalik daun atau di tanah / dibalik gundukan batu dengan melindungi dirinya menggunakan semacam selaput putih. Setelah mendapatkan enthung tersebut dalam jumlah yang lumayan, tibalah waktu untuk menikmatinya, cukup digoreng begitu saja hingga matang lalu dibumbui dengan sedikit garam. Dan rasanya tentu saja gurih dan lezat. Namun bagi yang tidak biasa makan kadang akan timbul alergi gatal-gatal, seperti orang yang alergi terhadap udang / seafood.